
HARI ini, Rabu tanggal 10 Maret 2010, Kota Bekasi merayakan hari ulang tahunnya yang ke-13. Muncul pertanyaan, kenapa baru tiga belas tahun kota ini merayakan hari lahirnya? Sementara wilayah Kota Bekasi konon telah eksis sejak republik ini belum berdiri.
Pertanyaan itu salah satunya terlontar dari mulut Heri Seputro, blogger asal Balikpapan, Kalimantan Timur, di tengah perjalanan city tour yang digagas komunitas Blogger Bekasi, Sabtu (6/3). Saat itu rombongan blogger baru saja meninggalkan Monumen Patriot yang terletak di Bumi Perkemahan Pramuka, Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan.
Mendapat pertanyaan itu, sang pemandu perjalanan, Andi Sopandi, menyebut, bukan hanya warga pendatang saja yang kurang mengenal sejarah Kota Bekasi. "Sampai kini pun, tak banyak warga Bekasi yang mengenal lebih dalam sejarah kota ini," tutur dosen FISIP Unisma Bekasi ini.
Merunut pada fakta sejarah yang panjang, Kota Bekasi memiliki cara berbeda dengan Jakarta maupun Balikpapan dalam hal penentuan hari lahirnya. Dengan luas wilayah 210,49 kilometer persegi, Kota Bekasi merupakan perkembangan dari Kabupaten Bekasi. Tanggal pemekaran itulah yang dijadikan hari lahir wilayah Kota Bekasi. Kota Bekasi dalam arti kotamadya.
Bekasjie
Jauh sebelum itu, kata Andi, dari abad ke-18 hingga 21 sudah tertera nama Bekasi dengan tulisan Bakasie, Bekasjie, Bekasie, dan Bekassi. Pada zaman Hindia Belanda, Bekasi merupakan bagian dari Regentschap Meester Coernelis. Pada masa pendudukan Jepang sebutan Regentschap Meester Coernelis diganti Jatinegara Ken (Kabupaten Jatinegara), di mana wilayah Bekasi masuk di dalamnya.
Rakyat Bekasi menuntut perubahan Kabupaten Jatinegara menjadi Kabupaten Bekasi pada rapat raksasa di alun-alun Bekasi pada 17 Januari 1950 dan baru ditetapkan pembentukannya pada 8 Agustus 1950 meliputi empat kawedanan yaitu Kawedanan Bekasi, Tambun, Srengseng, dan Cikarang.
Setelah sempat menjadi kota administratif, wilayah ini resmi menjadi Kota Bekasi sejak 10 Maret 1997.
Wilayah yang mendapat julukan Kota Patriot ini memiliki beberapa penanda kota berupa tugu dan monumen. Sebut saja misalnya Monumen Perjuangan Rakyat di Jalan Veteran, Tugu Perjuangan Rakyat di Bekasi yang terletak di Jalan Ahmad Yani, dan Monumen Kali Bekasi di Jalan Juanda.
Bisa jadi tugu dan monumen itu jarang disambangi warganya. Selain jarang dikunjungi, kondisi tugu dan monumen itu juga perlu mendapat perhatian, bukan hanya setahun sekali seperti menjelang peringatan HUT ke-13 ini.
Tulisan puisi Chairil Anwar tentang Karawang-Bekasi yang tertera di Tugu Perjuangan Rakyat di Bekasi yang terletak di Jalan Ahmad Yani misalnya, sudah tak jelas lagi. Coretan warna putih juga terasa merusak keaslian tulisan puisi bersejarah itu.
Seperti halnya sejarah kota ini, rupanya masih banyak juga warga yang masih tak mengenal betul di mana letak tugu dan monumen yang memiliki nilai historis itu. "Seumur-umur baru sekali ini saya ke sini. Kalau nggak ikut rombongan ini mungkin nggak bakalan ke sini," tutur Iwan, warga Pondokgede. (Ichwan Chasani)