
KEPULAN asap dari malam yang dipanaskan membawa aroma khas, nyaris menggoda siapa pun yang melintas di lantai 1 Mal Taman Palem, Cengkareng, Jakarta Barat. Bau khas malam itu memang tidak pernah tercium sebelumnya di mal tersebut. Bau ini, juga tidak banyak dikenali orang Jakarta pada umumnya.
Aroma khas yang keluar itu merupakan alat utama dalam pembuatan batik. Cairan malam itu digunakan sebagai tinta dalam melukis batik di sehelai kain. Sudah sepekan ini, beberapa perajin batik dari Cirebon dan Pekalongan berkumpul di mal yang terletak di Jalan Kamal Raya itu. Mereka datang tak hanya untuk menawarkan dagangan, tetapi juga berbagi ilmu untuk membuat batik kepada para pengunjung mal.
Sabtu (6/3) siang, tak kurang dari 20 siswa SMP bersimpuh untuk melukis batik di sehelai kain. Para pelajar ini sengaja diundang dari sekolah mereka untuk belajar membatik. Setelah diberi pengarahan, mereka kemudian diberi kebebasan untuk berkreasi membuat motif batik sendiri.
Para siswa ini asyik mengguratkan malam di kain dengan menggunakan canting. Sebagian peserta menggambarkan bunga, sebagian lagi mencoba meniru motif-motif batik yang pernah dilihatnya.
Sebelumnya, para siswa ini tidak pernah tahu cara membatik. "Sekarang saya paham bagaimana batik dibuat. Ternyata sulit juga membuatnya," kata Hana, pelajar SMPN 264 Cengkareng, Jakbar.
Beberapa pengunjung mal juga turut serta dalam kursus singkat membuat batik itu. Meski harus mengeluarkan uang Rp 20.000, para pengunjung yang turut dalam kursus singkat itu tampak menikmatinya.
"Acara ini akan kami laksanakan sampai 14 Maret," kata Kepala Divisi Promosi Mal Taman Palem, Binadi, Sabtu (6/3) siang. Binadi mengatakan, acara ini sengaja digelar untuk melestarikan budaya batik yang telah dinyatakan sebagai budaya dunia. "Batik adalah budaya luhur warisan nenek moyang kita. Kalau masyarakatnya tidak dikenalkan apa itu batik dan bagaimana membuatnya, bagaimana di kemudian hari masyarakat akan mencintai batik?" tuturnya.
Binadi mengatakan, setelah pameran ini selesai digelar, Mal Taman Palem akan membuka pusat batik di salah satu lantai pusat perbelanjaan itu. "Ini bukti keseriusan kami dalam melestarikan batik. Kami membuka kesempatan kepada seluruh perajin batik untuk bekerja sama dengan kami nantinya. Dan untuk bisa membuka kios di pusat batik, kami tidak akan membebani dengan biaya sewa," tuturnya.
Rumit
Kerumitan membuat batik dan hasil yang indah adalah alasan dijadikannya batik sebagai warisan dunia. Namun, warisan turun temurun yang sudah ada sejak tiga ratus tahun ini hanya berkembang di beberapa daerah. "Ini lah alasan kami mengapa kami juga membuka kursus singkat membatik ini," kata Binadi.
Binadi mengatakan, masih ingat kata-kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika memberikan sambutan dalam menyambut keputusan Unesco yang menyatakan batik sebagai warisan dunia. "Kata-katanya adalah batik karya anak bangsa, sepatutnyalah bangsa Indonesia melestarikan dan terus mengembangkan batik di masa mendatang," ujar Bidani mengutip pidato SBY.
Sementara itu, bagi para pelajar memiliki kesempatan untuk belajar adalah kesempatan yang langka. Apalagi hal ini dilakukan di pusat perbelanjaan. Selama ini para pelajar yang mengikuti kursus batik itu tidak mengetahui ada tempat untuk belajar membatik. "Saya senang bisa ikut belajar membatik. Sebelumnya saya tidak pernah tahu bagaimana batik dibuat," ujar Maria, pelajar SMP.
Di Jakarta hanya ada beberapa tempat belajar membatik untuk masyarakat luas. Salah satu tempat tersebut adalah Museum Batik yang terletak di kawasan Tanahabang, Jakarta Pusat.
Bidani mengatakan, sejak pameran ini dibuka bulan Februari 2010, ribuan pelajar sudah belajar membatik. "Mereka berasal dari sepuluh sekolah. Ke depan sudah ada beberapa sekolah lagi yang akan belajar membatik," ujarnya. Siswa yang diundang untuk belajar membatik tidak dikenai pungutan alias gratis.
Batik hasil karya para peserta kursus kilat ini boleh dibawa pulang oleh peserta. "Sehingga ini bisa dijadikan pajangan di rumah atau kamarnya," papar Bidani.
Sementara itu, Syakur, perajin batik asal Cirebon, mengatakan, antusiasme para pelajar Jakarta untuk belajar membatik sangat tinggi. "Mereka juga punya bakat yang baik. Ini bisa dilihat dari hasil karya mereka. Jika dilatih lebih lama lagi, saya yakin mereka akan mampu membuat batik yang bagus," kata Syakur. (Toto Sunandar)
PENGUMUMAN
Pembaca yang memiliki komunitas dan ingin ditulis di Harian Warta Kota, bisa menghubungi redaksi harian ini di nomor 021-53677881. Anda juga bisa mengirimkan identitas komunitas dan nomor kontak yang bisa dihubungi melalui faksimil 021- 53676972 atau email:redaksi@wartakota.co.id dan war_kot@yahoo.com. Terima kasih.