
Bekasi, Warta Kota
PULUHAN usaha kecil dan menengah (UKM) yang memproduksi boneka di wilayah Bantargebang, Kota Bekasi, tetap eksis meskipun belasan produsen boneka berskala besar telah bertumbangan. Permintaan pasar terhadap aneka produk kerajinan di sejumlah perajin itu pun masih stabil dan belum terpengaruh perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA).
Sri Andoko, perajin yang membuka bengkel produksi di Kampung Ciketing, Sumurbatu, Kecamatan Bantargebang, mengatakan, permintaan pasar akan boneka produknya hingga kemarin masih stabil.
"Lumayan, ada saja pesanan yang datang," ujarnya saat ditemui Warta Kota, Sabtu (6/3).
Menurut Andoko, jumlah pesanan pada kurun Januari-Februari mencapai kisaran 6.000-8.000 pieces. Seratus persen boneka yang dia produksi diserap pasar dalam negeri. Salah satu konsumen tetapnya adalah pengelola kebun binatang besar di wilayah Bogor.
Andoko, yang sudah menggeluti dunia garmen selama sepuluh tahun, mencoba peruntungan di usaha pembuatan boneka sejak tiga tahun lalu. Bermula dari hanya mengoperasikan sebuah mesin bordir buatan Korea seharga sekitar Rp 500 juta, kini dia mampu membeli tiga mesin lainnya yang berkapasitas sama.
Kepala Bidang UKM pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bekasi, Ali Budiman, mengatakan, UKM yang memproduksi boneka kecenderungannya justru menguat setelah belasan industri berskala besar yang memproduksi barang sejenis di Kota Bekasi bertumbangan.
"Dulu memang ada relasi antara UKM dan industri besar itu dengan skema inti-plasma. Setelah pabrikan yang menjadi inti bertumbangan, justru UKM yang menjadi plasma bisa lebih berkembang," tuturnya, kemarin. (Ichwan Chasani)