Kamis, 29 Juli 2010
Sudin Pariwisata Jakpus menggelar Festival Jajanan Khas Betawi dan Festival Jalan Jaksa pada 30 Juli-1 Agustus 2010 di Jalan Jaksa, Menteng              Pemprov DKI segera membatasi sepeda meotor melintas di kawasan-kawasan tertentu di Jakarta              Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur menjatuhkan vonis bebas kepada dua janda pahlawan              
Home  |  Sudut Kota  |  My Kampoeng
Senin, 8 Februari 2010 | 16:31 WIB
Dari Si Tedi hingga Dayang Sumbi
Warta Kota/Celestinus Trias HP

Menelusuri jalur kereta api (KA) Jakarta-Bandung sungguh mengasyikkan. Bukan hanya pemandangan alamnya yang asri tapi juga banyaknya bangunan dan benda peninggalan kuno yang menarik. Mungkin belum banyak yang tahu bahwa jalur itu ‘menyimpan’ beberapa bangunan tua yang memiliki cerita sendiri-sendiri.

Mengetahui ada hal menarik yang bisa ‘dijual’ sebagai obyek wisata, pihak PT Kereta Api Indonesia (PT KA) mulai tahun ini mempersiapkan sejumlah bangunan dari Abad ke-18 dan Abad ke-19 di jalur itu sebagai lokasi wisata.

Salah satu yang sudah mulai siap adalah kantor pusat PT KA yang berada di Jalan Perintis Kemerdekaan, Cikapundung, Bandung, Jawa Barat. Bangunan kantor yang dibangun tahun 1869 itu sudah mulai diubah bak museum. Sejumlah detail yang menunjukkan usia dan keunikan bangunan kantor itu diperbaiki dan dipercantik.

Sebagai penanda, di pintu masuk kantor pusat PT KA itu dipajang satu lokomotif tua TD 1002. Lokomotif berwarna hitam legam tersebut adalah buatan Belanda tahun 1926. Lokomotif itu terakhir kali digunakan tahun 1970. Dulu, loko itu pernah berjasa mengangkut segala jenis bahan pangan di wilayah Jawa Barat (di masa silam disebut wilayah Priangan). Lokomotif yang diberi nama Si Tedi itu juga pernah menjadi penarik gerbong penumpang dengan rute Rengasdengklok- Karawang-Wadas-Cikampek-Cilamaya.

Tak pelak lokomotif tua yang dipajang itu jadi perhatian banyak orang yang lewat. “Ini memang sebagai bagian untuk menarik perhatian. Namun, selain ini masih banyak lagi yang bisa jadi daya tarik sejarah. Seluruh bagian gedung kantor kereta api ini adalah bangunan tua peninggalan zaman Belanda. Usianya sudah 100 tahun lebih dan memang sudah kami catatkan sebagai benda cagar budaya yang patut dan harus dilestarikan,” kata Ella Ubaidi, Kepala Pusat Pelestarian Benda dan Aset Bersejarah PT KA, belum lama ini, ketika bersama beberapa wartawan dan pemerhati budaya menyusuri rute KA Jakarta-Bandung.

Sayangnya, dalam waktu dekat ini pengunjung belum bisa bebas masuk ke bangunan bersejarah kantor pusat PT KA di Bandung itu. Untuk sementara direncanakan kantor itu baru bisa dikunjungi wisatawan pada hari Sabtu dan Minggu saja.

Satu lagi bangunan kuno milik PT KA yang tersisa di Kota Bandung, yaitu Wisma Dayang Sumbi yang terletak di Jalan Dayang Sumbi, Dago. Menurut cerita, rumah yang dibangun tahun 1927 itu dulu merupakan tempat tinggal seorang tuan tanah dan juragan perkebunan teh berdarah Belanda. Kemudian rumah seluas 700 m2 yang tidak jauh dari lokasi wisata belanja Dago dan kampus ITB itu dijadikan rumah pejabat kereta api di zaman tersebut.

Kini di bangunan rumah yang sebagian tanahnya sudah dimiliki oleh orang lain dan sempat diberi bangunan tambahan untuk kamar mandi itu masih menyisakan plakat bukti bahwa itu dahulu adalah bangunan milik Belanda. Sekarang bangunan itu dalam tahap direnovasi untuk dikembalikan ke bentuk aslinya, setelah belasan tahun dijadikan wisma PT KA.

Diharapkan tahun 2010 ini, satu bangunan bersejarah lainnya milik PT KA juga bisa dijadikan obyek wisata sejarah, yaitu 21 bangunan gudang di Jalan Sukabumi, Cikudapateuh, Bandung.

Sayangnya, isi gudang yang kabarnya adalah barang-barang onderdil kereta dan alat komunikasi zaman baheula itu belum bisa disaksikan segera, karena masih terkunci dan dalam waktu dekat baru akan diperbaiki. Meski belum jadi obyek wisata, areal gudang itu sudah beberapa kali dijadikan lokasi pemotretan dan syuting film.

Sebagai informasi, gudang yang dulu arealnya menyambung (kini sebagian areal sudah jadi rumah-rumah milik masyarakat) hingga balai yasa (bengkel kereta dan Stasiun KA Kiaracondong) itu memiliki luas 42 hektar dan dibangun pada tahun 1907. (Celestinus Trias HP)

 

Share on Facebook
A A A
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Kode
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
About Us    |    Advertise with Us    |    Contact
© 2008 WARTA KOTA — All rights reserved