Kamis, 29 Juli 2010
Sudin Pariwisata Jakpus menggelar Festival Jajanan Khas Betawi dan Festival Jalan Jaksa pada 30 Juli-1 Agustus 2010 di Jalan Jaksa, Menteng              Pemprov DKI segera membatasi sepeda meotor melintas di kawasan-kawasan tertentu di Jakarta              Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur menjatuhkan vonis bebas kepada dua janda pahlawan              
Home  |  Pelesir  |  Melancong
Jumat, 29 Januari 2010 | 18:57 WIB
Sebar 4,5 Kue Apem Pembawa Barokah

Klaten, Warta Kota

Sebanyak 4,5 ton kue apem disebarkan dalam upacara adat Yaa-Qowiyyu yang diselenggarakan di Sendang Plampeyan, Kelurahan Jatinom, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Jumat (29/1).

Upacara Yaa-Qowiyyu yang merupakan tradisi sejak zaman Mataram Islam oleh Kiai Ageng Gribig, dalam penyebaran agama itu dihadiri puluhan ribu orang yang akan memperebutkan kue apem tersebut.

Massa mulai berdatangan dan berkumpul di Sendang Plampeyan Jatinom sejak pukul 11.00, dan dengan sabar menunggu hingga dimulainya acara sebar kue apem yang baru digelar sekitar pukul 14.00 atau sehabis salat Jumat di Masjid Gede di Jatinom.

Dua gunungan kue apem yang akan disebar diarak dari Masjid Gede hingga ke lokasi di Sendang Plampeyan, dan secara simbolis dibuka Bupati Klaten Sunarna. Para santri mengenakan baju warna putih lalu mulai menyebarkan kue apem yang sudah dipersiapkan di dua panggung di lokasi tersebut.
Massa yang datang dari berbagai daerah di Surakarta tersebut sudah menunggu di bawah panggung untuk merebutkan kue apem yang berat totalnya sekitar 4,5 ton.

Lurah Jatinom Suharji mengatakan, upacara adat Yaa-Qowiyuu yang berarti Maha Kuat ini sudah menjadi tradisi yang dilakukan masyarakat setempat setiap pertengahan bulan Sapar, mengikuti apa yang dilakukan Kiai Ageng Gribig.

Menurut Suharji, tradisi ini dilakukan ketika Kiai Ageng Gribig datang dari salat Jumat di Mekah membawa oleh-oleh sepasang kue apem. Padahal dua kue itu tidak akan cukup jika dibagikan kepada para santrinya. Oleh karena itu, dua kue apem tersebut dihancurkan dengan adonan tepung beras lalu dibuat kue apem yang dibagikan kepada para santrinya, dan tradisi itu dilakukan masyarakat setempat hingga sekarang.

"Kue apem yang disebarkan kepada masyarakat tahun ini, sebanyak 4,5 ton atau sekitar 38.000 kue apem," katanya.

Menurut dia, tradisi Yaa-Qiwiyyu menurut keyakinan warga setempat,akan mendapat barokah. Kue apem itu dibawa pulang untuk ditanam di sawah mereka supaya menjadi subur, sehingga kehidupan mereka menjadi sejahtera dan makmur.

Salah seorang pengunjung, Wagiman (39) warga Desa Padas, Jatinom, mengatakan, dirinya selalu menghadiri upacara Yaa-Qowiyyu untuk merebutkan kue tersebut. "Saya yakin jika mendapatkan kue apem yang disebarkan oleh para kerabat Kiai Ageng Gribig akan mendapat barokah.

"Kue apem ini akan saya tanam di sawah agar sawah saya subur dan menghasilkan gabah yang melimpah," kata Wagiman.

Camat Jatinom, Jaka Purwanta selaku panitia kegiatan Yaa-Qowiyyu menjelaskan, jumlah pengunjung diperkirakan sekitar 50.000 orang, tidak hanya dari Klaten, tetapi juga masyarakat dari luar daerah.
Oleh karena itu, pihaknya meminta bantuan aparat kepolisian setempat dengan menurunkan sekitar 100 personel untuk berjaga-jaga dalam upacara penyebaran apem tersebut. Selain itu juga melibatkan puluhan personel Linmas untuk membantu pengamanan.

Sementara massa selain merebutkan kue apem, mereka sebagian juga ada yang melakukan ziarah di makam Kiai Ageng Gribig yang terletak di sekitar Masjid Gede di desa tersebut. Mereka sampai berdesak-desakan untuk mendapatkan tempat antrean untuk berziarah di makam itu. (Antara/ink)

Share on Facebook
A A A
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Kode
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
About Us    |    Advertise with Us    |    Contact
© 2008 WARTA KOTA — All rights reserved