Kamis, 29 Juli 2010
Sudin Pariwisata Jakpus menggelar Festival Jajanan Khas Betawi dan Festival Jalan Jaksa pada 30 Juli-1 Agustus 2010 di Jalan Jaksa, Menteng              Pemprov DKI segera membatasi sepeda meotor melintas di kawasan-kawasan tertentu di Jakarta              Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur menjatuhkan vonis bebas kepada dua janda pahlawan              
Rabu, 13 Januari 2010 | 11:30 WIB
Cerita Pedagang Jamu Gendong
Dari Keluarga hingga Kampung Halaman
Warta Kota/ Irwan Kintoko

Waktu menunjukkan pukul 17.00, Minggu (10/1). Di sebuah gang sempit di belakang kampus Perbanas, Setiabudi, Jakarta Selatan, dagangan Harti (40-an) sudah habis.

Seluruh botol di gerobak mungilnya tidak menyisakan jamu setetes pun. Hanya jamu sachet yang masih tampak banyak.

Hari itu pekerjaan Harti boleh dibilang selesai. Bersama gerobak jamunya, perempuan asal Ngadirejo, Wonogiri, Jawa Tengah, ini bersiap pulang ke kamar kontrakan mungilnya yang jaraknya tidak jauh dari kampus tadi. "Jualannya besok lagi. Sekarang waktunya pulang dan istirahat," begitu kata Harti tersenyum.

Begitu sampai di rumah kontrakan, Harti masih bekerja membantu saudaranya berjualan bakso. Warung bakso mungil yang selalu ramai dan tutup pukul 22.00 itu menempel dengan kamar kontrakannya di belakang ITC Kuningan.

Seusai membantu berjualan bakso, Harti mulai menyiapkan bahan-bahan untuk minuman jamu yang akan dijual esok hari. Dia menumbuk sendiri beras dan kencur, kunir, asem, daun sambiloto, hingga daun sirih, diulek di cobek .

Setiap hari, Harti mendorong gerobak jamunya itu dua kali, pagi dan sore. Dia mengelilingi kawasan permukiman sekitar kampus Perbanas, Setiabudi.

Dulu, saat masih ada pabrik tahu di Kuningan, jamu bikinannya terjual hingga daerah Pasar Mencos, masih di Setiabudi. Harti punya langganan sehingga tidak perlu susah mencari pembeli. "Biasanya yang minum jamu saya itu anak-anak kos, baik mahasiswa maupun karyawan," katanya.

Sudah 18 tahun terakhir Harti berjualan jamu di sebagian Setiabudi. Dia masih ingat, saat berjualan pertama kali di Jakarta, tahun 1992, harga jamunya masih Rp 25 sampai Rp 50.

Kini, penghasilan Harti sekitar Rp 60.000/hari. Untuk modal Rp 25.000 dan sisanya ditabung buat keperluan sehari-hari. Seminggu atau dua minggu sekali, ia mengirim uang ke kampung antara lain untuk uang jajan anaknya Rp 20.000/hari dan uang sekolah Rp 100.000/bulan. Ia juga harus membayar uang kontrakan Rp 400.000/bulan.

Penjual jamu lainnya, Yati (30) —bukan nama sebenarnya— juga asli Wonogiri, memutuskan berjualan jamu setelah suaminya melarang dia bekerja sebagai sinden. Awalnya, Yati yang masih tampak ayu itu dikenal sebagai sinden ternama di kampungnya.

Begitu menikah dengan lelaki yang kini berdagang bakso di Setiabudi, Yati diminta berhenti dan kemudian ia berjualan jamu gendong. Setiap hari botol-botol jamu ditambah bakul yang beratnya bisa sampai 10 kg itu menempel di punggungnya.

Harti maupun Yati hanyalah dua dari puluhan penjual jamu di kawasan Setiabudi. Di sela-sela bekerja, mereka sering berkumpul, bercerita satu sama lain. Kadang pertemuan di jalan atau pasar selepas dagangan habis.

Apa pun bisa menjadi cerita, mulai dari keluarga di kampung hingga kehidupan bertetangga dan soal bahan-bahan jamu. "Kadang kalau pulang ke Wonogiri, saya sering mampir ke Solo untuk membeli bahan jamu. Banyak teman yang nitip," tutur Harti.

Para pedagang jamu itu tinggal berkelompok. Ada yang serumah dengan suami, tetapi banyak pula yang tinggal bersama teman karena keluarga di kampung. Pertemuan antarpedagang jamu tak harus dilaksanakan di rumah, tapi bisa di jalan selepas berjualan. Di situ mereka cerita segala macam. Mulai dari keluarga, hingga kampung halaman.

"Kalau Lebaran, kami pulang bersama dengan pedagang bakso yang juga berasal dari Wonogiri," ujar Harti yang tetap happy. (Irwan Kintoko)

 

Share on Facebook
A A A
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Kode
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
About Us    |    Advertise with Us    |    Contact
© 2008 WARTA KOTA — All rights reserved