
Seperti apa ya bernatalan di negara lain? Pertanyaan itu muncul karena Natal di Indonesia hanya terlihat dalam kemeriahan simbol Natal yang terdapat di pusat-pusat perbelanjaan. Namun bagaimana dengan semangat Natal yang sesungguhnya?
Tak mengherankan jika Natal di Indonesia terasa biasa-biasa saja karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Namun di Filipina, yang 85 persen penduduknya beragama Katolik Roma, 10 persen beragama Kristen lainnya, dan 5 persen sisanya beragama Islam, suasana Natalnya sungguh berbeda.
Masyarakat Filipina menyiapkan Natal secara lahir batin berbulan-bulan sebelum bulan Desember tiba. Bahkan seorang pastor Filipina mengatakan masyarakat sudah memikirkan Natal berikutnya sehari sesudah hari Natal berlalu. Artinya bisa positif dan negatif.
Bentuk positifnya adalah persiapan iman untuk menyambut Kanak-kanak Yesus, berupa ibadah misa Ekaristi selama sembilan hari berturut-turut (novena) sampai menjelang Malam Natal. Waktu ibadahnya juga bukan main-main, yakni pukul 04.00 sehingga disebut Simbang Gabi dalam bahasa Tagalog, atau Sembahyang Pagi dalam bahasa Indonesia.
Meski pun dilaksanakan sebelum subuh, bukan berarti hanya sedikit umat yang datang. “Justru saat Simbang Gabi itu hadir pula umat-umat yang biasanya tak pernah ke gereja sehingga gereja menjadi penuh,” kata Pastor Andre Kurniawan OP.
Hal ini terlihat pada Simbang Gabi yang dilaksanakan di Universitas Santo Tomas (UST), diadakan di sebuah lapangan bola karena gereja di universitas ini tak mampu menampung umat yang datang. Dan umat yang hadir memenuhi hampir separuh lapangan. Berbekal bangku kecil, bangku lipat, atau hanya sekadar kertas koran sebagai alas duduk, mereka setia mengikuti misa sampai akhir, meski pun badan menggigil kala angin subuh yang dingin berembus.
Sementara Simbang Gabi di gereja Santo Dominggo selalu penuh sehingga seluruh lorong gereja terisi orang. Di saat ini lah warga Manila City dari berbagai lapisan bertemu dalam sebuah bangunan. Tak terkecuali kelompok-kelompok minat khusus di masyarakat, seperti kelompok waria, kelompok remaja penggemar hip hop, kelompok remaja dengan ciri khas khusus rambut semua anggotanya dicat merah, dan kelompok-kelompok lainnya.
Gereja Santo Dominggo ini terletak di tengah-tengah dua kawasan permukiman, yakni permukiman padat masyarakat menengah ke bawah berada di depannya, dan permukiman masyarakat menengah ke atas di belakang gereja.
Dalam misa Simbang Gabi ini bacaan Injil diambil dari Injil Mateus dan Lukas, karena dua penulis Injil ini yang lebih detail menyampaikan kisah menjelang kelahiran Yesus. Lagu Kemuliaan juga dikumandangkan dalam Simbang Gabi, meski pun masih dalam masa Adven. Padahal aturan Gereja Katolik Roma menyebutkan bahwa lagu Kemuliaan tak boleh dinyanyikan pada masa Adven dan Prapaskah.
“Ada izin khusus dari Paus sehingga Kemuliaan boleh dinyanyikan di misa ini, “ Kata Pastor Andre.
Bagi masyarakat Filipina Simbang Gabi tak hanya menjadi sekadar ibadah, tapi juga menjadi tempat bertemu dengan kerabat dan kawan lama, mengetahui kabar terbaru setelah terpisah jarak selama paling tidak setahun. Maklum saja, karena banyak warga Filipina bekerja di luar negeri. Menjelang Natal mereka melakukan balikbayan, alias pulang kampung untuk merayakan Natal bersama keluarga dan teman lama. (AC Pingkan)