
Apa hubungan sepeda dengan bullying? Memang tidak ada hubungannya secara langsung, kecuali saat teman kita Ade Fauzan jadi korban bullying kakak-kakak kelasnya.
Cerita tentang peristiwa yang menimpa Ade bisa dibaca di berbagai media massa, termasuk di Warta Kota. Namun yang seharusnya menjadi perhatian adalah kenapa bullying masih terjadi di sekolah-sekolah di Indonesia, khususnya Jakarta.
Inti dari kegiatan bullying adalah membuat orang lain menjadi takut terhadap para pelaku bullying. Caranya bisa dengan melakukan kekerasan fisik, seperti melalui pukulan kayak yang diterima Ade; dan melalui kekerasan psikis, yakni kata-kata yang menghina, melecehkan, dan mengecilkan orang lain.
Frank Peretti menulis ada dua alasan mendasar mengapa seorang anak melakukan bullying. Yang pertama adalah pelaku bullying itu sebenarnya kurang pede (percaya diri), ingin mendapat penghargaan dari orang lain, serta haus kasih sayang. Dengan kata lain pelaku bullying adalah orang-orang yang tertekan alias stres.
Sayangnya mereka tidak tahu cara mendapakan itu semua. Mereka juga tak bisa membedakan antara respek dan takut, sehingga mereka cenderung melakukan hal-hal negatif terhadap orang lain agar orang lain takut terhadap mereka.
Alasan kedua adalah mereka tak pernah diajari menerima perbedaan. Jadi setiap melihat ada orang yang berbeda dengan mereka, baik itu cara bicara, warna kulit, atau bentuk fisik lainnya, timbul perasaan lucu sekaligus terancam. Karena tak pernah mendapat pendidikan yang cukup, cara mereka menangani perbedaan itu pun dengan melakukan kekerasan.
Dampak dari bullying adalah para korban pun merasa kesepian, tidak bahagia, dan ketakutan. Para korban pun merasa ada yang salah terhadap mereka, yang pada akhirnya membawa dampak pada kesehatan psikis korban. Parahnya jika si korban pun apada akhirnya melakukan bullying terhadap orang lain untuk mendapatkan respek. Tampaknya hal itu pula yan terjadi dalam kasus Ade, di mana para pelaku bullying sebelumnya mengalami bullying dari seniornya. Karena itu lah bullying harus dihentikan.
Bagaimana caranya? Karena kita Bike to School (BtS) kita bisa berusaha menghentikan bullying dengan mengajak mereka bersepeda. Lho, apa hubungannya bersepeda dengan bullying?
Tahu nggak kalian, saat kita melakukan olah raga, termasuk bersepeda, otak mengeluarkan hormon-hormon endomorphism, seperti endorphin, yang memberi rasa bahagia, lega, dan menghalau rasa sakit.
Olah raga juga membuat tubuh mengeluarkan hormon epinephrine, dopamine, dan serotonin, yang juga menimbulkan mood baik. Fungsi hormon-hormon inilah yang ditiru oleh obat-obat antidepresi. Pada saat yang bersamaan, hormon penyebab stress atau kortisol hilang.
Nah, karena pelaku-pelaku bullying adalah orang yang tertekan alias stres, tentu mereka harus diberi obat antisres, yakni berolah raga. Dengan mengajak sebanyak mungkin pelajar untuk bersepeda ke sekolah, yang artinya berolah raga sambil berangkat sekolah, maka akan lebih banyak lagi pelajar yang gembira dan sehat secara fisik dan mental.
Bergabung dengan BtS juga menambah teman, sehingga bisa curhat dan bercanda dengan teman-teman dari sekolah lain. Kalau para pelajar bahagia dan punya banyak teman, dia tak perlu melakukan bullying untuk mendapat pengakuan.
Mari hapus bullying dengan bersepeda ke sekolah (ink/dari berbagai sumber)