Jumat, 3 September 2010
Home
SAFARI RASA
Bogor
Gurihnya Soto Santan Bogor
oleh Bung Weka.
Jakarta
Ngopi Sambil Baca Buku
oleh Bung Weka.
Jakarta Pusat
Setengah Abad Si Kepiting Soka
oleh Bung Weka.
Depok
Sensasi Alam di Gubuk Makan Mang Engking
oleh Bung Weka.
Jakarta Pusat
Lapar? Yuk, ke Kedai Swadharma
oleh Bung Weka.
Yogyakarta
Keaslian Sego Abang Jirak
oleh Bung Weka.
Depok
Makanan Rumahan di Atas Telaga
oleh Bung Weka.
HUMOR : KULINER
CABE KERITING
TETANGGA Bedul, seorang pria bertubuh atletis dan berambut kribo, suka makan buah pepaya dan mangga. Setiap hari, dia pergi ke pa­sar untuk membeli salah satu dari dua jenis buah itu.
Saking seringnya beli buah, dia tak perlu berkata-kata. Misalnya saja, si kribo menginginkan mangga, dia cukup mengepalkan ta­ngannya. Dengan demikian, si pedagang mahfum si kribo minta mangga. Ka­lau dia menunjuk paha, si tukang buah tahu bahwa langganannya itu minta pepaya.
Kemarin, tetangga Bedul ini ingin mencicipi buah rambutan. Dia pun da­tang ke tukang buah langganannya dan langsung menunjuk rambutnya yang kribo. Dengan cemberut, si tukang buah menjawab, ”Lu tahu kan, gua jualan buah. Kalau mau beli cabai keriting..., tuh di tukang sa­yur.” (Bang Kota)
Kamis, 3 Juni 2010 | 11:33 WIB

MAKAN di tempat lesehan tampaknya menjadi keasyikan tersendiri bagi mereka yang tinggal di daerah perkotaan seperti Jakarta. Hadirnya masakan rumahan di tempat ini, membuat tambah nyaman menikmatinya.

Jarum jam menunjukkan pukul 19.30. Kawasan perbelanjaan Blok M masih ramai dengan orang yang hilir mudik dan melakukan berbagai aktivitas. Di salah satu pojok di depan pintu masuk pusat perbelanjaan Blok M Square, ada kesibukan lain yang dilakukan Bu Gendut bersama anak buahnya.

Makanan-makanan yang terletak di dalam wadah plastik dibiarkan begitu saja di jalanan sehabis diturunkan dari mobil pengangkut. Rupanya Bu Gendut sedang menunggu waktu hingga jarum jam menunjuk pukul 20.00. Saat itulah ia bisa menempatkan aneka lauk pauknya tepat di serambi pelataran Blok M Square.

Meski dagangan belum digelar, beberapa pelanggannya sudah mendekat dan membeli nasi dan lauk pauknya untuk dibungkus. Begitu dagangan digelar di tempat biasanya, lesehan pun juga turut ditata.

Meja-meja kecil yang bisa dipakai untuk 4-6 orang dijajarkan, dan tikar pun dibuka agar para pelanggan bisa makan sembari duduk dengan santai. Di areal tersebut, selain Bu Gendut, ada juga pedagang lesehan lainnya.

Di tempat Bu Gendut, aneka macam lauk-pauk yang disediakan umumnya merupakan masakan jawa. Menurut perempuan yang memiliki nama asli Partini (53) ini, ada lebih dari 70 jenis masakan yang disediakannya.

"Semuanya merupakan masakan rumahan. Waktu pertama kali buka hanya ada gudeg, krecek, ayam panggang, bacem, ayam opor. Lalu saya kembangkan sendiri untuk variasi supaya orang tidak bosan," ujar wanita bertubuh besar ini.

Rupanya masakan yang dibuat Bu Gendut sering membuat kangen para pelanggannya. Tak salah bila disebut Lesehan Mari Kangen, karena memang ngangeni alias bikin kangen. Firman, warga Pondoklabu mengaku sering ke lesehan ini karena suka dengan tumis tempenya.

"Tumis tempe buatan Bu Gendut ini sama seperti buatan ibu saya di kampung, jadi bikin kangen saja," katanya.

Bagi Partini yang sudah berjualan di kawasan Blok M sejak 1996, dia hafal dengan muka para pelanggannya. Meskipun namanya belum tentu diingatnya, namun jika suatu saat dia teringat seseorang dan membatin, bisa jadi keesokan harinya pelanggan tersebut muncul di hadapannya.

"Saya suka membatin kok si ibu ini udah lama tidak ke sini ya. Eh ternyata besoknya dia muncul. Memang seperti ada kontak batin juga dengan mereka," tutur ibu sembilan anak dan nenek tujuh cucu ini.

Ingat Malioboro

Masakan disediakan Bu Gendut mulai dari aneka sate (usus, ati-ampla, telur puyuh), aneka ikan goreng, cumi, aneka tumisan (tahu, kentang, tempe), urapan sayuran, ikan asin goreng, sambal tumpang, tumis pare, sambal goreng jengkol, pete goreng, gudeg, opor ayam, krecek, aneka pepes, bihun goreng, cumi tumis cabai hijau dan masih banyak lagi.

Pelayanannya sistem ambil sendiri. Hanya nasi putihnya saja yang diambilkan. Namun tidak jarang para pelanggan lebih suka dilayani untuk mengambil lauk pauknya.

Setiap hari Partini dan anak buahnya memasak semua makanan tersebut. Tidak hanya untuk di Blok M saja, tapi juga untuk cabang yang ada di Kemang, Jakarta Selatan.

Hanya saja yang di Kemang sistemnya dengan gerobak dan duduk di bangku panjang. Bisa dikatakan mirip angkringan. Aktivitas memasak dimulai dari pukul 07.00 hingga pukul 16.00. Untuk nasi rata-rata dibutuhkan 50-60 liter per malam.

Salah satu yang unik di lesehan Bu Gendut, piringnya menggunakan piring rotan yang dialasi daun pisang. Piring-piring tersebut juga dipakai untuk menempatkan semua lauk pauknya.

Jangan lupa mencicipi es buahnya yang begitu segar. Terdiri dari melon, blewah dan pepaya. Sirup merahnya sangat nikmat dan asli lho! Segelasnya dibanderol Rp 5.000.

Harga lauk pauknya bervariasi. Untuk jenis sayur tumisan, sekali ciduk dihargai Rp 2.000. Tapi untuk lauk pakai sistem satuan. Harga ikan antara Rp 4.000-Rp 15.000. Kalau ingin dibawa pulang per porsi lauk pauknya dihitung rata-rata Rp 5.000.

Sembari menikmati makanan, pengunjung dihibur para seniman jalanan yang mengkhususkan diri pada nyanyian Jawa. Ya, suasana seperti ini mengingatkan suasana di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Tidak jarang tempat ini dijadikan ajang silaturahmi dan reunian keluarga atau sekolah. (Dian Anditya Mutiara)

Lesehan Mari Kangen
Pelataran Blok M Square
Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Buka: 20.00-01.00
Libur: Hari Minggu ketiga

    • SELERA SELEB
    • Terngiang Nasi Jamblang Asli Cirebon
    • Artis seksi Andi Soraya (33) mengaku sangat menikmati sensasi makan nasi jamblang asli Cirebon. Gurih dan nikmatnya nasi jamblang di Cirebon selalu terngiang.

      Kenapa harus di Cirebon? Menurut ibunda Shawn Adrian (9) dan Darren Starling (5) ini, hanya nasi jamblang di Cirebon yang enak. Di ..

    • JAJAN MALAM
    • Nongkrong Sampai Pagi di Camp Steak
    • Setiabudi, Warta Kota

      Anak muda Jakarta yang gemar keluyuruan malam atau bahkan begadang hingga pagi, kini tidak perlu khawatir kelaparan lantaran sulit mencari warung makan yang buka hingga dini hari.

      Di bilangan Jalan Saharjo, Menteng Atas, Setiabudi, Jakarta ..

    Asli Betawi : 100% Indonesia
  • Uli Bakar
  • Camilam Khas Betawi
  • Uli Bakar adalah makanan khas Betawi, terbuat dari ketan, dibakar dan biasanya dimakan dengan tape ketan atau bisa juga dengan serundeng kelapa yang dicampur dengan sedikit gula pasir.

    Resep Uli Bakar
    Sumber: NN

    Bahan:
    100gr kelapa parut atau 300ml santan (1 kelapa)
    200 gram beras ketan, rendam minimal 1 jam
    170 - 200 ml air
    1 lembar daun pandan
    1 sdt garam (bisa lebih tergantung selera)

    Cara membuat :
    Kukus beras ketan selama 10 menit. Sementara itu panaskan santan, garam dan daun pandan. Masukkan beras ketan ke dalam santan. Aduk hingga santan mengering.

    Kukus kembali ketan hingga matang, tambahkan kelapa parut. Beri garam sesuai selera. Selagi ketan masih panas, campur dengan kelapa dan dihaluskan/ditumbuk.
    Setelah dingin, potong-potong lalu panggang uli hingga kecoklatan. Sajikan dengan sambal oncom atau serundeng kelapa.