
Palmerah, Warta Kota
Masjid sebagai tempat ibadah kebersihan, kenyamanan, dan keindahannya, agar kesuciannya terjaga. Namun untuk memujudkan itu tentu perlu biaya operasional. Akan tetapi, apakah dana operasional itu harus selalu menunggu datangnya dana bantuan..
Ketua Umum Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia, Otong Somantri, dalam acara Pelatihan Entrepreuner Berbasis Masjid di Masjid Baitul Ihsan-Bank Indonesia, Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (6/8) sore, mengatakan, sudah seharusnya pengurus masjid mencai sumber dana lain selain dari menunggu dana bantuan. Pelatihan itu bagian dari agenda Ramadan Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia
Sekarang saatnya untuk membangkitkan entrepreunership, khususnya untuk jamaah muda. Jadi sumber pendanaan bisa diperoleh dari usaha mandiri. “Kita harus tanamkan jiwa entrepreneurship yang ada di anak muda sekarang, meskipun hasilnya baru bisa kita dapat mungkin tujuh tahun ke depan. Namun kita harapkan ketika anak-anak muda ini menjadi pengurus masjid nantinya. Kita harapkan ekonomi bisa tumbuh di masjid,” jelas Otong.
Sementara Ketua Harian Yayasan Baitul Maal BRI, Nasir Tadjang yang juga menjadi pembicara, mengatakan bahwa untuk bisa menumbuhkan perekonomian di masjid, harus dimulai dari pembekalan skill dari para SDM-nya.
Sebagai contoh, menurut Nasir, jenis usaha bisa diterapkan misalkan dengan mengadakan Taman Pendidikan Al-quran di masjid. Dari kegiatan tersebut bisa dapat sumber pendanaan dari iuran para siswanya. “Artinya dari penghasilan tersebut 80 persen bisa untuk para pengelolanya, dan 20 persen bisa untuk masjid. Tapi jangan menutup untuk golongan yang tidak untuk mampu untuk belajar di tempat tersebut, Mereka bisa tetap mengikuti pendidikan yang nantinya biaya bisa kita carikan beasiswa,” kata Nasir.
Menurut Nasir, saat ini Yayasan Baitul Maal BRI melalui programnya telah berhasil memberikan sumber pendanaan kepada masjid-masjid di Indonesia. “Dalam program tersebut kita kasih satu ekor sapi kepada sebuah masjid untuk diternak, nanti hasilnya ketika sudah ada yang dijual, sebesar 80 persen untuk pemelihara ternak, dan 20 persen untuk masjid, jadi masjid bisa punya sumber pendanaan sendiri,” ujarnya.
Yayan, perwakilan dari Masjid An Nurjanah, Majalengka, yang hadir dalam pelatihan tersebut mengatakan bahwa dirinya bersama teman-temannya telah memprogramkan sebuah jenis usaha di bidang peternakan lele. Sementara, Samsul Rizal, Ketua JPRMI Aceh, mengatakan bahwa peluang usaha yang bisa dikembangkan di daerahnya adalah dari bidang kesehatan dengan obat-oabatan herbal, akupunktur, dan bekam. (m6)

