
Kemayoran, Warta Kota
Achmad Suntoko (50) tak menyangka Mitsubishi Fuso Colt T-200 bisa membawanya sampai ke JIExpo, Kemayoran (Jakarta Pusat) menyaksikan pameran mobil IIMS 2010.
Pria asal Blitar, Jawa Timur ini diundang PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors untuk menerima penghargaan karena loyalitasnya memakai Fuso Colt T-200.
Truk tersebut, katanya pemberian dari sang kakek buat cucu kesayangan. Saat dikasih itu, Suntoko baru berusia 17 tahun (1970-an). Dan truk berwarna hijau tua itu mejeng di hall A untuk kendaraan komersil.
"Saya sayang sekali dengan truk ini," ungkapnya usai menerima penghargaan dari Vice President Head of Sales and Service Mitsubishi Fuso Kai-Uwe Seidenfuss, Jumat (23/7). Truknya masih bandel di jalanan.
Suntoko yang sehari-hari menjalankan usaha jasa angkutan barang mengatakan truknya masih mampu melesat dengan kecepatan 110 km/jam, meski sudah berumur 32 tahun.
Sanggup membawa beban 1,5 ton sesuai kapasitas normal. Hampir semua fisik masih orisinil, bahkan belum pernah sekalipun turun mesin meski sudah menempuh jarak 72.000 kilometer.
Diakuinya, pernah mencat ulang badan truk sesuai aslinya tanpa dempul dan las. Ban juga sudah digantinya baru-baru ini.
Tapi, itu pun agak terpaksa karena disarankan oleh dealer Mitsubishi di daerahnya demi keselamatan. Pasalnya, truknya akan menempuh perjalanan jauh ke Jakarta untuk mejeng di IIMS 2010.
"Saya menyetirnya sendiri dari Blitar ke sini," kata ayah empat orang anak ini sambil memegang badan truk bernomor plat AG 8604 KW.
Ketika dibelikan sang kakek dengan harga Rp 1,4 juta, truk hanya dipakai untuk mengantar jemput kakek dan orang tuanya ke pasar. Saking sayangnya, tak pernah sekalipun disewakannya kepada orang lain untuk mengangkut barang.
Suntoko muda memiliki prinsip lebih baik bekerja menjadi supir truk orang lain daripada membiarkan T200-nya disewa orang lain. Seiring waktu berjalan, usaha jasa angkutan barang yang dirintisnya makin besar. Suntoko mampu membeli truk-truk lainnya untuk disewakan. Namun tak sekalipun, Colt T200 disewakan kepada mitra-mitranya.
Bagaikan istri sendiri, rasa sayang Suntoko pun makin besar terhadap truk peninggalan kakeknya ini. Saking sayangnya, truk ditempatkan dalam satu garasi dengan tiga Harley-Davidson-nya.
Sehari-hari, Colt T200 dipakai sebagai mobil pribadi untuk berpergian bersama keluarga jika ada hajatan yang harus dihadiri di luar kota. Sesekali dipakainya membawa moge ketika ada turing yang akan diikutinya.
Kalau seputar Jawa saja, mungkin belum bisa dibilang hebat. Ternyata, truk itu sudah sampai ke Lampung dan Manado lewat jalan darat untuk membawa dua moge. Suntoko menegaskan belum pernah sekalipun mesinnya mengeluh karena dirawat dengan baik. Tak seorang pun diperkenankan mengemudikannya.
Baginya, Colt T200 sudah menjadi bagian dari dirinya. "Bahkan kalau ke luar kota nyetir sendiri, sudah seperti bawa istri rasanya," katanya sambil tergelak. Begitunya dengan sang istri yang duduk di sampingnya.
Karena fisik masih gagah dan kemampuannya yang galak, pada1997, seseorang pernah menawar truknya seharga Rp 50 juta. Namun, ditolaknya. "Kakek pesan jangan dijual. Saya juga sepakat. Bagi saya, Mitsubishi Fuso itu aset yang tidak merugi," tambahnya.
Kini, Suntoko memiliki 45 unit truk lainnya. Semuanya keluaran Mitsubishi Fuso. Sekitar 30 unit dioperasikan untuk mendukung usaha angkutan barangnya di bawah bendera PT Budi Luhur Sejati. Sisanya menambah koleksi truk Fuso miliknya di garasi. Namun kebanggaanya, hanya Colt T200 yang hanya satu-satunya di Blitar. (luc/Kompas.com)