Rabu, 8 September 2010
Home
Selasa, 6 Juli 2010 | 23:37 WIB
Anak-anak Penderita Alergi Meningkat
indofamily.net 
Dibaca : 246 kali | Komentar: 0

Palmerah, Warta Kota

Pakar internasional kesehatan anak, Sibylle Koletzko, mengatakan dalam lima dekade di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia mengalami peningkatan prevalensi alergi sebanyak empat hingga lima kali lipat.

Dalam acara temu media di Jakarta, Selasa (6/7), dia mengatakan terjadi peningkatan signifikan angka penyakit gangguan sistem daya tahan tubuh, seperti alergi seiring dengan penurunan angka penyakit infeksi seperti tuberculosis (TBC) dan campak.

"Penyakit alergi sangat erat dengan daya tahan tubuh anak," kata Kepala Divisi Pediatric Gastroenterology and Hepatology Ludwig Maximilians University Munich, Jerman tersebut.

Menurut Koletzko, di Indonesia lima besar makanan pencetus alergi pada anak-anak adalah kelompok crustacea, kacang, makanan laut, telur, serta susu sapi.

"Alergi adalah respon sistem daya tahan tubuh secara berlebihan terhadap substansi yang biasanya tidak berbahaya, yang dapat menimbulkan gejala yang merugikan tubuh, mulai dari gangguan pernapasan, gangguan pada saluran cerna, maupun kulit," paparnya.

Senada dengan itu, Kepala Divisi Alergi-Imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI, Zakiudin Munasir, mengatakan melonjaknya kasus alergi pada anak di Indonesia, selain disebabkan oleh faktor genetik juga dipengaruhi faktor lingkungan.

Oleh karena itu, lanjutnya, sangat penting bagi ibu untuk melakukan tindakan-tindakan preventif pada masa kehamilan, kelahiran, maupun pada masa kanak-kanak karena jika kita memiliki alergi pada masa kanak-kanak, maka saat kita beranjak dewasa risiko terkena alergi pun juga akan besar.

"Indonesia merupakan penderita alergi paling rendah di dunia karena tingkat infeksi yang tinggi," kata Zakiudin.

Dia mengatakan, saat ini alergi belum dipandang sebagai ancaman epidemik seperti penyakit infeksi, maka belum banyak tindakan preventif yang dilakukan masyarakat. Padahal, ujarnya, keadaan ini berpotensi menjadi masalah di kemudian hari karena tak hanya mengganggu kualitas hidup penderita, namun juga menurunkan produktivitas orang-orang di sekelilingnya, penyebab stres pada anak dan menurunkan prestasi anak. (Antara/ink)

Share :                
A   A   A
Beri komentar :
Nama
Email
Komentar
Kode
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.