

Tebet, Warta Kota
Pencipta lagu-lagu anak AT Mahmud (80), Selasa (6/7) sekitar pukul 13.00 meninggal dunia. Saat ini jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka Jalan Tebet Barat II A/18 Tebet, Jakarta Selatan.
Informasi yang didapat Kompas.com menyebutkan, pencipta lagu Ambilkan Bulan Bu dan Pelangi itu akan dimakamkan Rabu (7/7) besok.
Menurut salah seorang cucu, P Nurria, sang kakek mengembuskan napas terakhir karena infeksi paru-paru. Tahun lalu pencipta lagu Bintang Kejora, Amelia, dan Cicak ini terkena sroke.
AT Mahmud lahir di Palembang, Kampung 5 Ulu Kedukan Anyar, 3 Februari 1930. Ia anak kelima dari 10 bersaudara. Ibunya bernama Masayu Aisyah, ayahnya bernama Masagus Mahmud. Ia diberi nama Abdullah dan sehari-hari dipanggil Dola.
Namun, sebutan nama Abdullah atau Dola kemudian menghilang. Nama pemberian orangtua tercatat terakhir pada ijazah yang dimilikinya pada sekolah Sjoeritsoe Mizoeho Gakoe-en (sekolah Jepang) tahun 1945.
Pada ijazah itu nama lengkapnya tertulis Mgs (Masagus) Abdu'llah Mahmoed. Di rumah, kampung, dan teman sekolah, ia lebih dikenal dengan nama Totong. Pada surat ijazah Sekolah Menengah Umum Bagian Pertama (setingkat SLTP) tahun 1950, namanya tertulis Totong Machmud.
Menurut cerita ibunya, ketika dirinya masih bayi ada keluarga Sunda, tetangganya, sering menggendong dan menimangnya sambil berucap, ... tong! ... otong! Sang Ibu mendengarnya seperti bunyi totong.
Sejak itu, entah mengapa, ibunya memanggilnya dengan Totong. Nama ini diterima di lingkungan keluarga dan kerabat. Nama lengkapnya kemudian menjadi Abdullah Totong Mahmud, disingkat A.T. Mahmud.
Di rumah pada waktu senggang, ia mencoba mengarang lagu anak-anak sambil memetik gitar miliknya. Lagu anak-anak tentu berbeda dengan lagu untuk orang dewasa, bedanya pada pikiran, perasaan, dan perilaku anak itu sendiri.
Ia pun mempelajari lagu anak-anak yang telah ada, seperti lagu-lagu Ibu Soed, Pak Dal, dan pencipta lagu anak-anak yang lain. Saat tinggal di Kebayoran Baru, Mahmud sering mengajak anaknya bermain ke Taman Puring.
Di sana ada ayunan, jungkat-jungkit, dan lapangan yang cukup luas sehingga anak-anak dapat melakukan permainan lain, seperti main lempar bola atau kejar-kejaran.
Roike, anaknya yang saat itu baru berumur 5 tahun senang sekali bermain ayunan. Ia begitu menikmati permainan itu dan menjaga agar anaknya tidak sampai mengalami kecelakaan.
Perasaan Roike dan pesan agar hati-hati sehingga tidak mengalami itu ia tuangkan ke dalam lagu Main Ayunan. Dorongan untuk membuat lagu datang pula dari guru-guru. Salah satunya adalah Ibu Rosna Nahar.
RRI memintanya membantu mengisi acara anak-anak pada sore hari, dengan memperkenalkan lagu lama maupun baru. Kesempatan ini ia pergunakan untuk memperkenalkan lagu ciptaannya sendiri.
Pelan tapi mantap, lagu-lagunya mulai dikenal di kalangan anak-anak, guru sekolah, dan orangtua. Tahun 1968, TVRI mengundangnya. Salah seorang pejabat di sana menjelaskan bahwa TVRI ingin menyelenggarakan sebuah acara baru, yaitu musik anak-anak tingkat SD.
Ia diminta untuk mengkoordinasi acara ini. Akhirnya jadilah sebuah acara bertajuk Ayo Menyanyi yang mulai mengudara tanggal 3 Juni 1968. Atas usul A.T. Mahmud, tahun 1969, TVRI menambah acara lagu anak yaitu Lagu Pilihanku. Jika Ayo Menyanyi berbentuk pelajaran untuk menyanyikan lagu baru, maka Lagu Pilihanku bersifat lomba.
Kehadiran acara Ayo Menyanyi dan Lagu Pilihanku, ternyata telah menarik minat kalangan perusahaan rekaman untuk merekam lagu anak-anak pada piringan hitam.
Tercatat nama perusahaan rekaman, seperti Remaco, Elshinta, Bali, Canary Records, Fornada, J & B Records. Lagu-lagu ciptaan A.T. Mahmud pun mendapat perhatian.
Di samping lagu-lagu ciptaan pencipta lainnya, ada sekitar 40-an lagu A.T. Mahmud tersebar pada tujuh piringan hitam antara tahun 1969, 1972, dan tahun-tahun sesudah itu.
Waktu terus berjalan. A.T. Mahmud pun memikirkan untuk menghimpun semua lagu yang diciptakan dalam bentuk buku.
Ia pernah mencetak sendiri, dengan biaya sendiri, dan penyebaran sendiri melalui sekolah langsung, yang menghasilkan dua buku kumpulan lagu yaitu Lagu Anak-Anak Kami Menyanyi yang berisikan 44 lagu, disusun pada tahun 1969 dan Lagu Anak-Anak Main Ayunan yang berisikan 30 lagu, pada tahun 1970.
Atas prestasinya di bidang musik, A.T. Mahmud telah banyak menerima penghargaan. Empat penghargaan terakhir adalah bulan Oktober 1999, Hadiah Seni dari Pemerintah, yang diserahkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Juwono Sudarsono.
Inilah hadiah seni pertama yang diterimanya dari Pemerintah dalam suatu upacara resmi. Februari tahun 2001, pada saat peluncuran film Visi Anak Bangsa karya Garin Nugroho, bertempat di gedung Teater Indonesia TMII, ia menerima penghargaan dalam bentuk lontar yang diserahkan oleh Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri.
Di atas lontar tertulis Untuk yang mencipta melintasi keberagaman budaya memberi keindahan dan kemuliaan keberagaman hidup.
Pada Mei 2001 bertempat di Golden Room Hotel Hilton, diprakarsai dan melalui Yayasan Genta Sriwijaya, ia menerima penghargaan berupa trofi dari masyarakat Sumatra Selatan, bersama-sama dengan tiga orang tokoh yang lain.
Pada Agustus 2003, ia pun menerima Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Pemerintah RI (Keppres No.052 /TK/Tahun 2003 Tanggal 12 Agustus 2003).
Satu bulan kemudian, Anugerah Musik Indonesia (AMI) memberikan penghargaan berupa Lifetime Achievement Award kepadanya atas sumbangsihnya terhadap dunia musik.
Semasa hidupnya, meskipun banyak membuat lagu anak-anak, AT Mahmud masih merasa risau, pasalnya meskipun sudah banyak lagu anak-anak yang tercipta dari sejumlah komponis, namun yang dikenal hanya beberapa. Ia juga menyayangkan media TV saat ini yang lebih banyak memberikan porsi musik untuk konsumsi dewasa.
AT Mahmud menikah dengan Mulyani, dikaruniai tiga orang anak, Ruri Mahmud, Rika Mahmud, dan Revina Ayu.
Selamat jalan AT Mahmud! (luc/dari berbagai sumber)

